Tuesday, April 9, 2013

Tas Ransel, Bukan Muhrim, dan Jalan Raya

Sebatang rokok kubeli dari kios gerobak ini. Lalu menyulutnya seraya berbalik badan, menghadap ke jalan. Aku duduk di samping kios, dan kulihat ada dirimu berdiri di depanku. Membelakangiku kira-kira tujuh meter jaraknya.
 
“Ini Medan Bung!!” dalam benakku.
Oh, salah! Dari penampilanmu, jelas kamu bukan kaum Adam.
“Ini Medan…Mbak atau Dik, ya?! tebak-tebak buah manggis, dalam kepalaku. Terhadap dirimu.
 
Jalan raya sangat padat sekali, one way. Dilintasi serigala jalanan; tikus jalanan; macan jalanan; kuda jalanan; dan jalanan-jalanan lainnya. Suara meraung sahut-menyahut. Bising! Riuh! Gaduh!
 
(Dirimu bingung!!)
Jelas saja. Lampu merah, jalan! Lampu kuning, maki-makian. Lampu hijau, serempet-serempetan.
 
Kuperhatikan… Satu langkahmu mengandung ragu. Mungkin saja seragu tatapanmu tatkala memandangku, jikalau ku ada di sampingmu. Ya, mungkin saja. Sebab langit dan bumi adanya kita. Begitu berbeda.
 
Dirimu berpenampilan serba tertutup. Kecuali untuk pergelangan tangan hingga jari-jemarimu. Sedangkan parasmu, aku belum tahu. Model busana yang kamu kenakan, aku tak tahu apa namanya. Karena untuk urusan fashion, amboi, aku benilai merah. Yang aku tahu, dirimu mengenakan pakaian model terusan. Dari atas sampai bawah. Menyimpan misteri dan sarat teka-teki. Dan di genggaman tangan kananmu, kulihat ada dua buah buku di situ.
 
Sedangkan aku, wah, acak-kadut nian. Celana sobek-sobek. Kaos kumal. Muka berbedak tebal debu jalanan. Dan bisa jadi tak sedap dipandang. Bahkan, tanpa memakai topeng buto cakil sekali pun, tampangku mungkin bisa membuatmu merinding bukan kepalang. Beruntungnya, aku ada menggendong tas ransel di punggungku. Biarpun usang, tapi bisa buat jaga-jaga untuk menutup mukaku, seandainya dirimu menjerit tatkala tanpa sengaja menatapku bulat-bulat. Visualisasi imajinasi!
 
Tiga menit berlalu. Dirimu masih tetap di situ, berteman ragu. (Maju selangkah, tapi mundurnya dua langkah. Maju-mundur, maju-mundur)
 
Ah, kasihan sekali dirimu.
 
Aku ingin bertindak bak pahlawan (kesiangan), tapi pantaskah? Sisi ke-manusia-an dan aksioma-etika tubrukan dalam benakku. Baik tapi salah. Atau, buruk tapi benar, ya?
 
Dalam kepalaku,
Pertama: Aku mendekatimu. Lalu menawarkan diri untuk membantu menyeberangkanmu,  dengan cara memegang tanganmu. Agar dirimu merasa aman dan nyaman. Tapi dari penampilan luarmu, jelas saja dirimu bakal bilang ‘Maaf, kita bukan muhrim’. Ah, mau diletakkan di mana mukaku ini. Malu, malu, dan malu. Kuhapus bayangan ini!

Kedua: Aku tetap menawarkan diri, namun dengan cara berjalan di sampingmu. Akan tetapi, apabila langkahku-langkahmu tidak seiring sejalan, atau mungkin saja dirimu tertinggal di belakang karena ragu dan ketakutan, parahnya lagi kalau sampai dirimu tertabrak hantu-hantu jalanan, ah, justru bisa jadi kacau-balau keadaan. Niat baikku pun berpotensi jadi penyesalan kemudian. Ku-delete juga bayangan mengerikan ini!

Ketiga:Atau, apa langsung kugandeng saja tanganmu, ya? Kemudian tanpa basa-basi langsung  berjalan cepat-cepat menyeberangi jalan. Tangkas, lugas, lunas! Selesai perkara! Akan tetapi, jelas ini melanggar etika. Selain divonis dengan predikat ‘orang nggak tahu sopan-santun’, mungkin juga tamparanmu mendarat darurat di landasan pipiku yang legam ini. Tapi, apa mungkin orang sepertimu langsung main hantam saja? Ah, kubuang saja pemikiran ini!

Keempat: Apatis mungkin lebih baik. Memangnya siapa dirimu? Kenal saja tidak! Untuk minta tolong pun, dirimu enggan. Masa bodoh ah! Tapi, di mana sisi kemanusiaanku? Ah, aku binguuuuuung!
 
Tiga menit jilid kedua menyusul berlalu, kupastikan dari jam tanganku.
 
Dirimu mulai resah-gelisah diburu waktu. Seakan tak sabar untuk segera tiba di tempat yang menjadi tujuanmu. Situasi dan kondisi pun lantas memicu kehendakku. Oleh kehidupan, aku terpanggil untukmu.
 
Apa mau dikata!! “Mungkin cara ini lebih baik, daripada…..” cetus hatiku.
 
(Aku melangkah menyongsongmu. Dari berjarak tujuh meter menjadi enam meter…..lima meter……empat meter….tiga meter…..dua meter….dan akhirnya……)
 
Fiiiiiiiuuuuhh!
 
(Aku dan kamu sudah bersebelahan. Terpisah satu meter. Aku di kananmu, kamu di kiriku)
 
Tik-tok-tik-tok-tik-tok….
 
Aku melirikmu. Oh, ternyata wajahmu tak ikut ditutup. Lantas, terlihat olehku pipi kanan dan mancung hidungmu. Selain itu, sempat pula kutengok buku di genggamanmu. Ada dua kata di cover-nya yang mengintip malu-malu, karena sedikit tertutup ibu jarimu. Meskipun begitu, masih cukup jelas untuk bisa kubaca: ‘SUAMI IDAMAN’
 
“Hihihihi…jelas bukan aku!” cengar-cengir hatiku. Sadar diri! Tapi sudahlah, toh, tujuanku bukan ingin menjadi kandidat ataupun kontestan dalam pencarianmu. Sesama manusia, aku hanya ingin membantumu. Titik!
 
Tiga…dua…satuuuu…action!!
 
Tas ransel yang awalnya melekat di punggung, kupindahkan ke genggaman tangan kiriku.
 
“Mbak atau Dik, ya?........................  Ah, gitu aja kok repot!!”
 
“Mbak,” (kamu menoleh ke arahku) “Mau nyebrang ya. Ayo, bareng aja kita. Awak mau nyebrang juga neh.” Kuucapkan tanpa jeda. Buru-buru seperti dikejar hantu. Bahkan, aku tak sempat lama-lama menatapmu.Berasa gimanaaaaa gitu…
 
(Meski tatapanmu merasa asing.  Namun kamu mengangguk, hanya sekali. Tanpa kata, tanpa suara)
 
“Ya udah Mbak. Pegang nih ujung tas awak. Ayo kemon!”
 
Jika aku memindahkan tas, maka kamu memindahkan buku. Dari tangan kananmu, ke tangan kirimu.
 
(Tas ransel usang. Kamu genggam ujung yang satu dengan tangan kananmu. Pula kugenggam ujung yang satu lagi dengan tangan kiriku. Ah, spontan itu memang indah….)
 
(Kubuka telapak tangan kananku lebar-lebar, menjadi rambu-rambu lalu lintas dadakan. STOP!)
 
Aku dan kamu sama-sama melangkah! Langkah pertama, keberanian. Langkah kedua, keyakinan. Selanjutnya kemudian……
Tin-tiiiinn!! Tiiiiiiiiiiiiinnnn..!! Tin-tiiiiinnn! Tiiiiiiiiiinnnnn…….! Woi!! MAU MATI KAU YA?!!
 
Di seberang jalan…
Walau tampak tertunduk-tunduk lagi tersipu-sipu, kamu menghadap tepat ke arah mukaku. Face to face!Berhadapan telak! Layaknya tendangan pinalti, 12 pas! Tak lagi sebatas pipi kanan dan mancung hidungmu itu yang terlihat olehku. Melainkan………
 
Ah, kulihat ada segaris lengkungan di busur Cupid bibirmu. Dirimu tersenyum. Minimalis, tapi estetis. Dan tatapan matamu itu…..malu-malu….tapi syahdu, juga teduh. Senyumanmu, tatapanmu, terbingkai pula oleh seraut wajah yang……..ah, hatiku terpicu untuk bertasbih: “Subhaanallaah….”
 
(Kedua tanganmu bersimpuh)
“Makasih ya Akhi…Assalaamu’alaikum….”
“I..iya Mbak..Wa’alaikumsalam….” kubalas salam-mu dengan terperangah.
 
Dirimu pun berlalu meninggalkanku dalam bisu. Semuanya terjadi begitu cepat, secepat kilat. Ya, aku tahu. Dirimu tak mungkin berlama-lama menatapku. Malah, aku jadi merasa bersalah, jika ada dosa yang terpetik olehmu dikarenakan diriku.
 
Aku masih terpana!
 
‘Akhi’…... Satu kata ini teriang di kepalaku. Memantik senyum di bibirku. Mungkin karena telingaku jarang mendengarnya, apalagi ditujukan untukku. Atau, apa karena dirimu yang mengucapkannya padaku……‘Akhi’……Ah, elegan sekali.
 
Episode baru-kah ini?? Atau, cuma sebatas adegan singkat di atas panggung kehidupan ini?? Ah, siapa yang tahu?? Biarlah Tuhan memainkan Skenario-Nya, yang (mungkin) ikut tersenyum menyaksi dari Sana :)





CATATAN PENTING :
"Celotehan ini ditulis oleh Brother Dedy Kurnia Putra, beliau adalah salah 1 sohibnya Alm. My brother (Eko Iswahyudi). Dan beliau adalah salah 1 penulis berbakat menurut saya."

0 komentar:

Post a Comment

Comment di sini ya chuy!!!

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Hire Me on Freelancer.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More